kemenag kota ambon

“ Dengan Buka Puasa Bersama Kita Tingkatkan Toleransi Antar Umat Beragama “

Ambon (Inmas)_Bulan Suci Ramadhan merupakan medium untuk mengasah spirit toleransi dan kerukunan umat beragama itulah sebuah pesan Tausyiah yang disampaikan oleh perwakilan Penyuluh Agama Islam Ustad Yahya Narahubun S.Ag dalam acara buka puasa yang diseleggarakan oleh SMP Negeri 20 Passo, Minggu, 19/05/18.

Kegiatan buka puasa bersama ini diikuti oleh seluruh para guru dan siswa siswi SMP Negeri 20 Passo, hadir mendengarkan secara hikmat Tausyiah yang disampaikan oleh Ustad Yahya Narauhubun S.Ag, menjelang berbuka puasa yang merupakan kegiatan rutin pihak sekolah setiap Bulan Suci  Ramadhan.

Ustad Yahya Narauhubun dalam Tausyiahnya menyampaikan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk ini tidak hanya perbedaan dari aspek etnis, adat istiadat atau tradisi, tetapi juga keyakinan atau agama, Hal yang terakhir inilah yang senantiasa menuntut adanya sikap toleransi diantara kita agar jalinan kerukan antar umat beraga selalu terjaga.

Toleransi kerap dimaknai sebagai saling toleransi menghormati dan menghargai atas perbedaan yang ada di antara umat manusia, “ Saling” artinya dilakukan oleh kedua pihak, baik yang berpuasa maupun sebaliknya. Disinilah yang akan menjadi prasyarat adanya kerukunan antar manusia, apapun latar belakannya kita. 

Dalam Al –Baqarah ayat 138 dijelaskan bahwa puasa juga diwajibkan atas umat-umat terdahulu, artinya umat beragama sebelum Islam pun juga memiliki tradisi berpuasa. Dalam hal ini, Fakhrudin Ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaibi, menegaskan yang dimaksud dengan umat-umat terdahulu dalam ayat diatas adalah umat para Nabi terdahulu; mulai dari umat Nabi Adam AS, hingga umat Nabi Muhammad SAW, termasuk didalamnnya adalah umat Yahudi dan umat Nasrani. Sebagaimana umat Nabi Muhammad SAW, umat Nabi-Nabi terdahulu jiga punya kewajiban berpuasa walaupun bentuk dan waktu puasanya berbeda-beda antara satu umat dan umat yang lain.

Dengan demikian, Ustad Narahubun menyampaikan dalam keadaan berpuasa, seseorang tak sepantasnya melakukan aksi kekerasan, misalnya dengan mengsweeping warung-warung makan yang buka siang hari di bulan Ramadhan, ingat kita hidup bermasyarakat tidak hanya dihuni oleh Muslim saja, tapi juga ada umat beragam lain yang tak puasa, bahkan diantara umat Islam sendiri juga ada yang tidak berpuasa karena satu dan lain hal. Tentu mereka tak akan kesulitan memenuhi kebutuhan makan dan minum jika ada warung yang buka.

Untuk itulah  spirit tuntunan agung yang diinternalisasi oleh puasa selama bulan puasa penuh kemulian ini berlangsung, tentu saja sejumlah nilai luhur di atas dimaksudkan untuk terus berlangsung dan membuahkan perdamaian dan kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat, terutama pada masa-masa sesudah bulan Ramadhan, Imbuhnya.(Hm.W)